Pedoman Produksi Bawang Merah
1. Pendahuluan
Bawang merah tidak hanya digunakan sebagai bahan penyedap masakan saja tapi juga untuk obat, antara lain obat diabetes melitus, maag, luka, menurunkan kadar gula dan kolesterol. Di bidang industri pangan, bawang merah diolah kembali sebagai sari bawang dalam bentuk ekstrak kasar kering berupa bubuk atau minyak atsiri. Produktivitas dan mutu bawang merah lokal masih cukup rendah. Agar bisa bersaing dengan bawang impor, maka mutu dan produktivitas bawang nasional perlu ditingkatkan sehingga memenuhi standar Internasional. Untuk itu perlu dilakukan penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahap budidaya hingga pemasaran umbi bawang merah.
2. Cara Budidaya Bawang merah
1. Syarat tumbuh
* Ketinggian lokasi : 10-250 m dpl
* Tipe iklim : kering
* Suhu udara : 25-320C
* Tanah lempung berpasir atau berdebu, tipe tanah aluvial dan latosol
* Ph tanah : 5.5-7.0
2. Penyediaan bibit Persyaratan umbi :
* Umbi telah disimpan 2-3 bulan dari panen. Bibit yang disimpan lebih dari 3 bulan, vigoritasnya rendah
* Ukuran bibit 3-4 gr/umbi
* Umbi dipilih yang bernas/padat (tidak keropos), kulit umbi mengkilat dan tidak luka
* Berasal dari tanaman yang sdan tidak luka
* Berasal dari tanaman yang sehat dan sudah berumur 70-90 hari setelah tanam
* Umbi sehat
* Jika dipotong melintang akan terlihat tunas yang berwarna hijau (panjangnya separuh panjang umbi)
* Lakukan pemisahan siung menjelang pananaman.
3. Penyiapan lahan
Tanah ringan :
* Bajak lahan dua kali hingga tanah gembur berstruktur remah. Pada pengolahan tanah kedua, campurkan pupuk kandang matang sebanyak 10-20 ton per hektar
* Buat parit keliling dan parit pembatas antar bedengan selebar 30-40 cm
* Buat bedengan setinggi 15-30 cm, lebar 1-1,2 m dan panjangnya sesuai kebutuhan
Tanah berat atau tanah sawah:
* Buat parit keliling untuk pembuangan air dan parit pembatas atau bedengan selebar 30-40 cm. Biarkan tanah selama 7-14 hari
* Olah lahan dengan kedalaman 30 cm dan biarkan selama 7-14 hari.
* Berikan pupuk kandang (10-20 ton/hektar) diatas bedengan saat pengolahan tanah ringan sekaligus mencampur pupuk kandang
* Ratakan permukaan bedengan dan siram secukupnya hingga lahan siap tanam
* Berikan kapur pertanian sebanyak 1,5 ton jika pH tanah <5,5 (tanah ringan dan tanah berat) yang diaduk secara merata di atas bedengan
4. Penanaman
* Potong pada bagian ujung umbi sebesar 1/8-1/3 bagian 1 hari sebelum tanam.
* Tentukan jarak tanaj 18x18 cm
* Buatlubang tanam dengan tugal atau alat lain setinggi ukuran umbi bibit
* Pegang lain setinggi ukuran umbi bibit
* Pegang umbi bibit dengan posisi baian yang dipotong berada di atas, lalu masukkan bibit ke dalam lubang tanam dan agak ditekan dengan jari agar umbi merekat pada tanah. Posisi akhir umbi sejajar diatas permukaan tanah. Tutp bedengan dengan mulsa jerami atau ilalang kering dan siram secukupnya.
* Lakukan penanaman pada awal musim kemarau atau akhir musim hujan. Penanaman sebaiknya pada saat kondisi cuaca cerah
5. Pengairan
* Siram tanaman pagi dan sore hari saat tanaman berumur 0-7 hari
* Siram tanaman dua hari sehari sekali hingga tanaman berumur 42 hari
* Siram tanaman dua kali sehari saat tanaman berumur kira-kira 60 hari (selama pembentukan umbi)
* Hentikan penyiraman tanaman saat umbi mencapai ukuran maksimal (tanaman mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan warna daun)
* Pemberian air dapat dilakukan dengan perembesan air melalui parit-parit atau melalui penyiraman langsung pada bedengan
6. Penyiangan Gulma
* Lakukan penyiangan pertama saat pertumbuhan daun bawang mulai tampak yakni pada umur 14-21 HST
* Lakukan penyiangan gulma kedua saat tanaman berumur 28-35 HST. Penyiangan berikutnya tergantung pada kondisi lingkungan.
* Lakukan penggemburan tanah saat penyiangan gulma secara hati-hati agar akar tanaman tidak rusak. Gulma dapat dibersihkan dengan kored atau cangkul kecil atau dengan tangan.
7. Pemupukan
Perhekta
8. Pemupukan
Perhektar tanaman bawang merah memerlukan 222-267 kg Urea, 312,5 kg TSP dan 200 kg KCL. Waktu dan cara pemberian pupuk sebagai berikut :
* Berikan 1/2 bagian Urea dan 1 bagian TSP dan KCL saat tanaman berumur 14-21 HST
* Berikan pupuk Urea 1/2 dosis lagi saat tanman berumur 28-35 HST (sisa pemupukan pertama)
* Masukkan pupuk dalam lubang larikan sedalam 3-5 cm dan jauhnya 10 cm dari tanaman bawang (tergantung perkembangan tanaman), lalu tutup dengan tanah dan siram secukupnya supaya pupuk cepat larut. Kegiatan penyiangan gulma dan penggemburan tanah biasanya dilakukan secara bersamaan saat pemupukan untuk menghemat tenaga kerja.
9. Pengendalian Hama dan Penyakit
Thrips
Gejala:Daun berwarna kecoklatan
10. Pengendalian hama terpadu
* Kebersihan kebun dari gulma
* Pengendalian hama dan penyakit dengan cara mekanis dan biologi
* Penyemprotan tanaman dengan pestisida sebagai upaya akhir
Sabtu, 31 Oktober 2009
Pedoman Produksi Bawang Merah
Diposting oleh
Arman.arnat@
di
23.47
0
komentar
Label: Tanaman semusim
EFIKASI HERBISIDA PENDIMETALIN UNTUK PENGENDALIAN GULMA PADA BUDIDAYA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa var. ascalonicum)
Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) merupakan sayuran rempah yang cukup populer di kalangan masyarakat yang memiliki banyak manfaat, selain sebagai bumbu penyedap rasa juga sebagai obat tradisional. Dalam upaya peningkatan produksi melalui pengembangan budidaya, gulma merupakan faktor penghambat sehingga perlu dikendalikan. Salah satu teknik pengendalian gulma yang digunakan yaitu secara kimiawi menggunakan herbisida.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui (1) efikasi herbisida pendimetalin dalam mengendalikan gulma pada tanaman bawang merah, (2) perbedaan komunitas gulma setelah aplikasi herbisida pendimetalin, (3) fitotoksisitas atau keracunan tanaman bawang merah akibat aplikasi herbisida pendimetalin.
Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung dan Laboratorium Ilmu Gulma, Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Agustus hingga November 2007. Penelitian dilakukan dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan empat ulangan dan enam perlakuan yaitu dosis pendimetalin 330, 495, 660, 990 g/ha, penyiangan mekanis, dan kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) herbisida pendimetalin dengan taraf dosis 330 g/ha sudah dapat mengendalikan pertumbuhan gulma total hingga 6 MSA, (2) gulma dominan Cleome rutidosperma dan Cyperus rotundus tidak dapat dikendalikan hingga 6 MSA. Sedangkan gulma dominan Amaranthus spinosus dapat dikendalikan hingga 6 MSA, (3) aplikasi herbisida pendimetalin menyebabkan terjadinya perubahan komunitas gulma pada 2 dan 6 MSA, (4) herbisida pendimetalin pada berbagai taraf dosis yang diujikan tidak meracuni tanaman bawang merah hingga 8 MSA.
Diposting oleh
Arman.arnat@
di
23.40
0
komentar
Label: Gulma
Mengembalikan keseimbangan lahan pertanian / perkebunan
Kunci kesuburan tanah adalah terciptanya keseimbangan antara fisika ,kimia,dan biologi tanah .
Sayangnya saat ini, kebanyakan pertanian Indonesia hanya memperhatikan atau mementingkan dua unsur saja yaitu fisika ( dibajak , dicangkul , digmburkan ) dan kimia ( diberi pupuk kimia untuk menambah hara makro maupun mikro . Sedangkan unsur biologisnya terlupakan.
Akibat ketidakseimbangan ini maka yang terjadi adalah :
* Struktur tanah menjadi keras.
* Kemampuan tanah untuk mengikat air semakin berkurang.
* Matinya / berkurangnya mikroba – mikroba yang berguna untuk menguraikan unsur hara ( N,P,K,dll ) yang terdapat di dalam tanah, menjadi senyawa yang mudah diserap oleh tanaman.
Dengan kata lain yang terjadi adalah, lahan semakin lama semakin tidak subur dan produktifitas merosot dari tahun ke tahun. Untuk mengembalikan kesuburan tanah, maka tidak ada jalan lain kecuali mengembalikankeseimbangan tanah dengan memberikan perhatian kepada unsur biologi tanah yang sempat dilupakan orang.
Solusi untuk lahan pertanian / perkebunan
Memperkenalkan pupuk hayati ( Biologi ) Golden Harvest untuk menjawab masalah pertanian /perkebunan saat ini .
Dengan Golden Harvest bebagai masalah pertanian akan teratasi, karena ;
1. Dengan penggunaan Golden Harvest,anda bisa menghemat pemakaian pupuk kandang dan pupuk kimia sampai 50 %. Artinya anda menghemat biaya operasional dan juga mengatasi masalah pupuk kimia yang sulit didapat .
2. Dengan penggunaan pupuk hayati Golden Harvest, hasil produksi bisa meningkat 20 % s.d 40 %. Artinya penghematan biaya tidak menurunkan produktifitas. Jadi anda hemat biaya dan mendapatkan penghasilan lebih, dengan kata lain pemakaian Golden Harvest akan memberikan keuntungan ganda.
3. Dengan penggunaan Golden Harvest, lahan semakin lama semakin subur. Mikro biologi dalam Golden Harvest bisa membantu memperbaiki sifat fisik, kimia adan biologi tanah, sehingga tanah semakin lama semakin subur.
Selain itu mikro organisme dalam Golden harvest juga bisa mengurangi atau menetralisir sisa peptisida dalam tanah, serta menekan mikro organisme yang merugikan .
Diposting oleh
Arman.arnat@
di
23.10
0
komentar
Label: Mikoriza
Uji Efektivitas Berbagai Jenis Tanaman Inang Terhadap Perbanyakan Spora Mikoriza
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertambahan penduduk di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat, hal ini seiring dengan kebutuhan pangan yang juga semakin meningkat. Dalam mengatasi fenomena tersebut telah dilakukan upaya peningkatan produksi pangan yang berkesinambungan yaitu dengan cara ekstensifikasi dan intensifikasi. Melihat dari kondisi lahan pertanian yang semakin menyempit, cara ekstensifikasi tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan dan satu-satunya cara yang ditempuh adalah upaya intensifikasi pertanian.
Intensifikasi dilakukan dengan cara meningkatkan produktifitas lahan pertanian yang tersedia. Para ilmuan terdahulu melakukan penambahan abu dan kapur pada tanah mereka untuk meningkatkan hasil dan sekarang para ilmuan melakukan penelitian dengan menambahkan mineral pada tanah pertanian untuk melihat pengaruh mineral yang ditambahkan. Dengan keberhasilan tersebut telah banyak pengetahuan tentang nutrisi tanaman dan sejak saat itu penggunanan pupuk untuk meningkatkan produksi secara besar-besaran dilakukan dalam upaya intensifikasi lahan pertanian (Widodo dkk, 2006).
Disisi lain upaya intensifikasi juga megalami hambatan seperti semakin kecilnya subsidi pemerintah terhadap sarana produksi pertanian dalam hal ini pupuk dan pestisida. Pembuatan pupuk buatan bagi tanaman merupakan sarana yang cukup ampuh dalam meningkatkan produksi tanaman di Indosesia. Namun di lain pihak, penggunaan pupuk buatan mengakibatkan penambahan biaya sedangkan petani tidak mempunyai modal untuk itu.
Menurut Pujianto (2001) penggunaan pupuk buatan serta input luar lain secara besar-besaran dapat menyebabkan pencemaran sumber-sumber air dalam arti penurunan kualitas lingkungan. Masalah lain dari pupuk buatan yang digunakan adalah dapat menyebabkan rusaknya struktur tanah akibat pemakaian pupuk buatan yang terus-menerus sehingga perkembangan akar tanaman menjadi tidak sempurna. Begitu juga dari efek sarana produksi terhadap lingkungan telah banyak dirasakan oleh kalangan masyarakat petani seperti penggunaan pupuk buatan secara terus-menerus menyebabkan ketergantungan dan lahan mereka menjadi sukar untuk diolah. Oleh sebab itu perlu dicari suatu alternatif yang dapat menghemat atau mengurangi penggunaan pupuk buatan. Salah satu cara untuk menggantikan sebagian dari fungsi pupuk buatan tersebut adalah dengan memanfaatkan pupuk hayati berupa Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA).
Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa CMA mampu meningkatkan serapan hara baik hara makro maupun mikro, sehingga CMA dapat dijadikan sebagai alat biologis untuk mengurangi dan mengefesienkan penggunaan pupuk buatan. CMA dapat memperpanjang dan memperluas jangkauan akar terhadap penyerapan unsur hara, dengan demikian serapan hara tanaman meningkat sehingga hasil tanamanpun dapat meningkat (Husin dan Marlis, 2000).
Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi oleh cendawan mikoriza. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza vesicular arbuskular adalah kedelai, barley, bawang, nanas, padi gogo, pepaya, selada, singkong dan sorgum. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya telah terinfeksi mikoriza adalah tebu, teh, tembakau, palem, kopi, karet, kapas, jeruk, kakao, apel dan anggur (Rahmawaty, 2003).
Untuk mengetahui asosiasi yang evektif antara cendawan mikoriza dan tanaman inangnya, perlu dilakukan pengamatan derajat infeksi. Semakin tinggi derajat infeksi menunjukkan asosiasi antara keduanya, namun hal ini dipengaruhi oleh tanaman inang, tempat terjadinya asosiasi dan jenis cendawan yang digunakan untuk berasosiasi.
Berdasarkan hal diatas perlu diadakan perbanyakan spora mikoriza untuk mengurangi dan mengefisienkan penggunaan pupuk yang berlebihan. Untuk mengetahui efektifitas perbanyakan spora, maka perlu dilakukan uji perbanyakan spora mikoriza melalui berbagai jenis tanaman inang.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi yang efektif dari berbagai jenis tanaman inang terhadap perbanyakan spora.
Diharapkan penelitian ini dapat sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan selanjutnya dalam hal perbanyakan spora mikoriza alam.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penyerapan Hara dan Air Oleh Akar Tanaman
Sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman diserap dari larutan tanah melalui akar, kecuali karbon dan oksigen yang diserap dari udara melalui daun. Penyerapan unsur hara secara umum lebih lambat dibandingkan dengan penyerapan air oleh akar tanaman (Lakitan,1993).
Penyerapan air oleh akar tanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan morfologi akar. Bentuk kedalaman serta penyebaran akar akan mempengaruhi jumlah hara dan air yang dapat diserap oleh akar tanaman. Makin dalam dan panjang akar menembus tanah makin banyak pula hara dan air yang dapat diserap bila dibandingkan dengan perakaran yang pendek dan dangkal dalam waktu yang sama (Jumin, 2002).
2.1.1. Tanaman bawang merah (Allium ascolanicum)
Bawang merah merupakan tanaman sayuran umbi yang dapat tumbuh dengan baik pada musim kemarau dengan syarat air irigasi yang cukup, dalam arti tata air (drainase) dan tata udara (aerasi) dalam tanah berjalan dengan baik tidak tergenang.
Dalam hal penyerapan unsur hara dan air, tanaman bawang merah memiliki akar serabut dan sistem perakaran dangkal yang bercabang terpencar pada kedalaman antara 15 cm – 30 cm di dalam tanah.
2.1.2. Tanaman Padi (Oriza sativa)
Tanaman padi dapat tumbuh di daerah panas dan banyak mengandung uap air. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 cm – 22 cm dengan pH antara 4 – 7.
Kemampuan akar untuk menyerap air pada kondisi kering menjadi ukuran dalam mengidentifikasi galur/varietas yang tahan terhadap kekeringan. Varietas padi yang tahan terhadap kekeringan dengan umur genjah mempunyai peluang yang besar untuk ditanam pada iklim dengan periode hujan singkat. Namun, tampaknya penelitian terhadap sistem dan sifat-sifat perakaran masih menjadi topik penelitian yang penting. Akar sangat berperan dalam penyerapan unsur hara dan air untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tanaman. Galur/varietas padi gogo umumnya mempunyai perakaran yang lebih panjang, padat dan diameter yamg akar lebih besar dibandingkan dengan galur/varietas padi sawah, serta memiliki daya tembus akar yang lebih tinggi (Plantus, 2008).
2.1.3. Tanaman Jagung (Zea mays)
Tanaman jagung memiliki sistem perakaran sebagai berikut: Akar serabut yang tumbuh dipangkal batang, menyebar luas sebagai akar lateral yang toleran terhadap tanah relatif basah dan tidak tergenang namun rentan terhadap kekeringan. Akar seminal (seminal cord) yang tembus ke bawah (subsoil) mampu mencapai kedalaman 1m – 2m. Fungsinya adalah untuk meningkatkan kemampuan akar dalam menyerap hara dan air dalam tanah. Akar seminal berperan dalam meningkatkan daya tahan tanaman jagung terutama saat kekeringan dimusim kemarau. Tanaman jagung juga memiliki primordia akar di sendi batang yang dilindungi kelopak daun. Fungsinya adalah untuk menyerap air dan hara yang tertampung di kelopak daun seperti hara dan air dari penyemprotan pupuk atau air hujan.
2.1.4. Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum)
Tanaman tomat merupakan tanaman semusim yang berumur sekitar 4 bulan. Kebutuhan air pada tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman tomat dapat menyebabkan tanaman tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur hara dan mudah terserang penyakit.
Dalam hal penyerapan unsur hara dan air tanaman tomat memiliki akar tunggang yang terdiri atas akar utama dan akar-akar lateral yang mengeluarkan serabut-serabut akar. Panjang akar utama tanaman tomat berkisar 35 cm – 50 cm dan akar-akar lateral menyebar sekitar 35 cm – 45 cm.
2.2. Mikoriza
2.2.1. Pengertian Mikoriza
Mikoriza merupakan mikroorganisme cendawan akar yang bersimbiosis dengan akar tanaman tanpa mengalami nekrosis seperti yang terjadi pada jamur phatogen. Mikoriza yang tumbuh pada akar tanaman mampu meningkatkan kesuburan tanah dan membentuk penyerapan nutrien secara lebih baik terutama fospor dari tanah sekitarnya (Setiyati, 1993).
Istilah mikoriza diambil dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos=miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosis mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan dan sebaliknya jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan.
Berdasakan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokan kedalam tiga type yaitu endomikoriza, ektomikoriza dan ektendomikoriza. Endomikoriza mempunyai infeksi hifa struktur yang membentuk rajutan hifa secara internal pada jaringan korteks dan sebagian hifanya memanjang, menjulur keluar serta masuk kedalam tanah untuk menyerap unsur hara dan air. Ektomikoriza mempunyai infeksi hifa interseluler yang membentuk mantel di luar dan di dalam akar,yakni pada sel-sel epidermis dan korteks. Sedangkan ektendomikoriza merupakan jenis mikoriza yang mempunyai infeksi hifa interseluler.
2.2.2. Manfaat Umum Mikoriza
Manfaat dari mikoriza dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu manfaat dalam ekosistem, manfaat bagi tanaman dan manfaat bagi manusia. Manfaat mikoriza dalam ekosistem sangat penting, yaitu berperan dalam siklus hara memperbaiki sturktur tanah dan menyalurkan karbohidrat dari akar tanaman ke organisme tanah yang lain. Sedangkan manfaat bagi tanaman yaitu dapat meningkatkan penyerapan unsur hara terutama P, dimana mikoriza dapat mengeluarkan enzim fosfate dan asam-asam organik khususnya oksalat yang membantu membebaskan P.
Mikoriza dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan fospat melalui dua cara, yaitu pengaruh langsung melalui jalinan hifa eksternal yang diproduksinya secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitasnya dalam menyerap unsur hara dan air (Sieverding, 1991 dalam Sasali, 2004) dan pengaruh tidak langsung, dimana mikoriza dapat memodifikasi fisiologis akar sehingga dapat mengeksresikan asam-asam organik dan fosfatase asam ke dalam tanah (Abbott et al, 1992 dalam Sasali, 2004).
Fosfatase asam merupakan suatu enzim yang dapat memacu proses mineralisasi P organik dengan mengkatalisis pelepasan P dari kompleks organik menjadi kompleks anorganik.
Mikoriza memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhan tanaman inangnya baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Secara tidak langsung mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah, meningkatkan kelarutan hara serta meningkatkat proses pelapukan bahan induk. Secara langsung, mikoriza meningkatkan serapan air dan hara, serta melindungi tanaman dari patogen dan unsur toksik.
Menurut Nuhamara (1994) mikoriza dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim. Selain itu juga dapat meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan ZPT lainnya seperti auksin, serta menjamin terselenggaranya proses biogeokemis.
2.2.3. Perkembangan Mikoriza
Banyak faktor biotik dan abiotik yang menentukan perkembangan CMA. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
Suhu
Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktifitas cendawan. Suhu optimum untuk perkembangan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya. Suhu yang tinggi pada siang hari (35℃) tidak menghambat perkembangan akar dan aktifitas fisiologi CMA. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas (40℃). Suhu bukanlah merupakan faktor pembatas utama bagi aktifitas CMA. Suhu yang sangat tinggi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang.
Kadar Air Tanah
Adanya CMA sangat menguntungkan bagi tanaman yang tumbuh di daerah kering karena CMA dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air dengan cara memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang.
Beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan, diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transpor air ke akar meningkat, (2) adanya mikoriza menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula, (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman bermikoriza lebih mampu mendapatkan air dari pada yang tidak bermikoriza, (4) penemuan akhir akhir ini adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktifitas mikoriza. Pada tanaman bermikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Oleh karena itu tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan, hal ini dimugkinkan karena pemakaian air yang lebih ekonomis, (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan mikoriza mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air dapat meningkat (Rotwell, 1984 dalam Madjid, 2009).
pH Tanah
Cendawan pada umumnya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan mikoriza terhadap pH tanah mempengaruhi perkecambahan, perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse, 1981 dalam Madjid 2009).
Bahan Organik
Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik, air dan udara. Jumlah spora tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik dalam tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik adalah 1 – 2 persen, sedangkan pada tanah-tanah berbahan anorganik kurang dari 0,5 persen kandungan spora (Anas, 1997).
Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA, karena serasah akar yang terinfeksi oleh mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Serasah tersebut mengandung hifa, vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Disamping itu berfungsi sebagai inokulum untuk generasi tanaman berikutnya.
Cahaya dan Ketersediaan Air
Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat di dalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawan mikoriza. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan rendah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat dan pada pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.
Fungisida
Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit tanaman. Disamping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit, fungisida Agrosan, Benlate, Plantavax, meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2,5 mg per g tanah) dapat menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Rahayu dan Akbar, 2003).
Pemakaian fungisida menjadi dilematis, disatu pihak jika tidak digunakan maka tanaman yang terserang cendawan akan mati atau terjadi penurunan hasil, tetapi jika digunakan akan dapat membunuh cendawan mikoriza yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Dalam mengatasi fenomena tersebut perlu dicari suatu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik yang berguna dalam tanah (Marx, 1982 dalam Anas, 1997).
2.3. Hasil Penenelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza
Telah banyak penelitian tentang inokulasi yang membuktikan pengaruh positif keberadaan mikoriza pada tanaman padi dalam hal pertumbuhan dan hasil tanaman. Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan yaitu inokulasi mikoriza spesies E. Colombiana, G monihotis dan Glomus sp baik yang dipupuk fospat atau TSP menunjukan peningkatan pada jumlah gabah isi, berat gabah isi dan berat jerami, sehingga pada penelitian ini berkesimpulan bahwa pengaruh inokulasi dengan ketiga spesies jamur MA menunjukan peningkatan pertumbuhan, serapan P, dan hasil padi gogo varietas IR 64 (Kabirun, 2002).
Thomas et al (1993) dalam Subiksa (2002) menyimpulkan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat secara nyata menyebabkan permeabilitas yang tinggi namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerase dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman, tapi juga bagi tanah.
Dari penelitian yang dilakukan untuk mengetahui Respon Tanaman Jagung Terhadap Inokulasi Jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan Sludge Cair di Tanah Andisol, menunjukan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan unsur N tanah setelah percobaan dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al, 2000).
Menurut Santosa (2004) pemanfaatan mikoriza dapat mengendalikan serangan nematoda bengkak akar meloidogyne spp pada tanaman tomat. Pada penelitian yang dilakukan oleh Gunadi dan Subhan (2008) memperoleh hasil bahwa penggunaan jamur mikoriza menunjukan serapan P pada tanaman tomat meningkat. Pada umur 9 minggu setelah tanam penggunaan pupuk P dengan dosis 45 kg P2O5/ha meningkatkan secara nyata bobot kering tanaman dan komponen hasil seperti bobot buah total per petak dan jumlah buah per petak (15m²). Lebih lanjut hasil penelitian Simarmata (2005) menunjukan bahwa pemanfaatan cendawan mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat.
2.4. Hipotesis
Terdapat salah satu dari berbagai jenis perlakuan tanaman inang yang lebih berpotensi meningkatkan jumlah spora pada percobaan perbanyakan spora mikoriza.
III. BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
3.1. Tempat dan Waktu
Percobaan ini di laksanakan di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, pada bulan juni 2009.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang di gunakan dalam percobaan ini yaitu tanah Marena yang berasal dari tanaman kakao, padi gogo, bawang merah, jagung, tomat, pupuk Urea, TSP, KCL, alcohol 70%, air, kertas saring, dan tissue.
Alat yang di gunakan adalah cangkul, timbangan analitik, oven, ayakan, polybag ukuran 20cmx30cm, saringan biasa (2cm), saringan filter (63µm), cawan petridish, gelas ukur, kotak rol film, gunting, pinset, mikroskop dan alat tulis menulis.
3.3. Metode Percobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial. Perbanyakan spora mikoriza dilakukan menggunakan 4 perlakuan adalah sebagai berikut:
1. A= Perbanyakan spora menggunakan tanaman bawang merah
2. B= Perbanyakan spora menggunakan tanaman padi gogo
3. C= Perbanyakan spora menggunakan tanaman jagung
4. D= Perbanyakan spora menggunakan tanaman tomat
Setiap perlakuan digandakan (duplo) dan diulang sebanyak lima kali sehingga diperoleh 40 unit percobaaan. Sebagai kontrol dalam penelitian ini sebelumnya dilakukan pengamatan (analisa) spora pada media tanah yang akan ditanami sebanyak tiga kali ulangan. Hasil rerata yang diperoleh pada pengamatan adalah 8 spora per 10 gram tanah.
3.4. Pelaksanaan Percobaan
3.4.1. Persiapan Tanah
Tanah yang akan dijadikan media tumbuh yaitu tanah di sekitar tanaman kakao yang berasal dari Desa Marena. Tanah tersebut di gemburkan sambil menghilangkan gulma yang ada, dan selanjutnya dikeringanginkaan selama ± hari. Setelah masa pengeringan, melakukan penimbangan tanah masing-masin seberat 3 kg dan di masukkan ke dalam polybag, kemudian diberi air sampai menunggu masa kapasitas lapang.
3.4.2. Pengambilan Sampel Spora Awal Percobaan.
Sebelum masa penanaman terlebih dahulu melakukan pengambilan sampel tanah yang berasal dari tanaman kakao. Proses pengambilan sampel diulang sebanyak 3 kali dan masing-masing sampel diambil sebanyak 10 gram tanah. Tanah tersebut dimasukkan ke dalam wadah (gelas aqua) dan diberi air, kemudian diaduk dengan tujuan agar spora-spora terlepas dari agregat tanah tersebut. Setelah teraduk dengan baik, didiamkan hingga larutan tanah terpisah dengan larutan air kemudian melakukan penyaringan larutan air tanah tersebut menggunakan saringan berukuran 2 mm dan penyaringan dilanjutkan kembali menggunakan saringan filter (saringan 63µm).
Proses akhir penyaringan adalah menggunakan kertas saring dan hasil pada kertas saring ditempatkan pada cawan petri kemudian dilanjutkan dengan pengamatan spora di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali.
3.4.3. Penanaman dan Pemeliharaan.
Setelah pengamatan dan mengetahui jumlah spora mikoriza berdasarkan 10 gram tanah, melakukan penanaman pada polybag dengan kondisi tanah yang berada dalam kapasitas lapang. Tanaman yang di gunakan sebagai tanaman inang pada perbanyakan spora adalah tanaman bawang merah, jagung, padi dan tanaman tomat. Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pemberian air sesuai kebutuhan masing-masing tanaman inang. Selain itu melakukan pengendalian hama secara fisik jika tanaman terserang hama.
3.4.3. Panen
Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 60-65 hari setelah tanam. Tiga hari sebelum masa panen, penyiraman dihentikan dengan maksud agar proses pembongkaran akar lebih mudah selain itu merupakan masa pembentukan spora.
3.4.5. Pengamatan
Komponen pengamatan yang akan di amati dalam perbanyakan spora mikoriza pada berbagai jenis tanaman inang yaitu menghitung jumlah spora per 10 gram tanah pada masing-masing sampel tanah yang berasal dari 4 jenis tanaman inang perbanyakan. Sebagai data pendukung dari hasil perkembangan spora setelah perbanyakan, juga dilakukan penghitungan derajat infeksi dengan metode pewarnaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anas, I.,1997. Bioteknologi Tanah. Laboratorium Biologi Tanah. Jurusan Tanah.
Fakultas Pertanian. IPB.
Bintoro M, Ika RS dan Sanubari MM, 2000. Pengaruh Sludge Cair dan Inokulasi
Mikoriza Vesikular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung
(Zea mays).
Gunadi, N., dan Subhan, 2008. Respon Tanaman Tomat Terhadap Penggunaan Jamur
Mikoriza pada Lahan Marjinal. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Husin, E. F. dan Marlis, R. S. Yeast. 1983. Aplikasi Cendawan Mikoriza Arbuskular
sebagai Pupuk Biologi pada Pembibitan Kelapa Sawit. Prosiding Seminar Nasional
BKS PTN Wilayah Indonesia Barat. FP USU Medan.
Jumin, H.B., 2002. Agroekologi: Suatu Pendekatan Fisiologis. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Kabirun, S., 2002. Tanggapan Padi Gogo Terhadap Inokulasi Jamur Mikoriza
Arbuskula dan Pemupukan di Endisol.
Lakitan, B., 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.Plantus, 2008. Metode Skrining Padi Tahan Kekeringan. Balai Penelitian
Bioteknologi. Jakarta.
Madjid, A., 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian
Unsri dan Program Studi Ilmu Tanah, Program Magister, Program Pasca Sarjana,
Universitas Sriwijaya. Palembang.
Nuhamara, S.T., 1994. Peranan mikoriza untuk reklamasi lahan kritis. Program
Pelatihan Biologi dan Bioteknologi Mikoriza.
Plantus, 2008. Metode Skrining Padi Tahan Kekeringan. Balai Penelitian Bioteknologi
Tanaman Pangan. Bogor.
Pujianto. 2001. Pemanfaatan Jasad Mikro Jamur Mikoriza dan Bakteri dalam Sistem
Pertanian Berkelanjutan di Indonesia. http://www.hayati-ip6.com/rudyet/indiv
2001/pujianto.htm. (diakses 28 juli 2009).
Rahayu, N., dan Akbar A.K., 2003. Pemanfaatan Mikoriza dan Bahan Organik dalam
Rangka Reklamasi Lahan Pasca Penambangan. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas
Pertanian Universitas Tanjungpura. Pontianak.
Rahmawaty, 2003. Restorasi Lahan Bekas Tambang Berdasarkan Kaidah Ekologi.
http/www.library.usu.ae.id.download/tp/htm-rahmawaty s:pdf. (diakses 29 Juli
2009).
Santosa, S., 2004. Uji efektivitas Penggunaan Isolat Vesikular Arbuskular Mikoriza
Untuk Pertumbuhan dan Ketahanan Serangan Nematoda Bengkak Akar
Meloidogyne spp Pada Tanaman Tomat.
Sasali, I., 2004. Peranan Mikoriza Vesikula Arbuskula (MVA) dalam Meningkatkan
Resistensi Tanaman Terhadap Cekaman Kekeringan. Makalah Pengantar ke
Falsafah Sains. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Setiyati, H., 1993. Pengantar Agronomi. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian
IPB. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Simarmata, T., 2005. Kontribusi Cendawan Mikoriza dan Kompos Dalam
Meningkatkan Hasil Tanaman Tomat (Licopersicum esculentum Mill) Pada
Inceptisol. Agroteksos. Mataram.
Subiksa, IGM., 2002. Pemanfaatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis.
Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Widodo, A. Romeida, dan Marlin, 2006. Unsur Hara Tanaman. Bahan Ajar Nutrisi
Tanaman. Jurusan Budi Daya Pertanian Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Diposting oleh
Arman.arnat@
di
20.02
0
komentar
Label: Mikoriza
Budidaya Padi Gogo Situbagendit
KENDAL- Budidaya tanaman padi gogo atau padi di lahan kering, hasilnya dapat diandalkan. Dalam panen raya pada lahan milik Perhutani di Petak 66E RPH Trayu BKPH Boja KPH Kendal, persisnya di Dusun Trayu, Desa Kertosari, Kecamatan Singorojo, kemarin (16/2) pagi, setiap hektarenya mampu menghasilkan produksi gabah mencapai 3,2 ton.
’’Jenis tanaman padi yang dikembangkan adalah varietas Situbagendit. Di Petak 66E ini lahan budidaya padi gogo tersebut mencapai luasan sembilan hektare. Pada lahan Perhutani ini dimanfaatkan oleh kelompok tani dengan sistem tumpangsari,’’ papar Adiministratur KKPH Perum Perhutani KPH Kendal Ir Widianto MFor SCi di sela-sela kegiatan panen raya padi gogo, kemarin.
Kegiatan panen raya padi gogo Situbagendit, secara simbolis dilakukan Gubernur Bibit Waluyo beserta istri, Wabup Dra Siti Nurmarkesi, dan sejumlah pejabat Pemprov Jateng di lokasi. ’’Lahan yang dimanfaatkan oleh warga, sebelumnya merupakan bekas tebangan pohon jati yang kini telah ditanami bibit pohon jati. Sebelum bibit jati itu berusia dua tahun, bisa dimanfaatkan untuk budidaya padi dan palawija.’’
Buah Rosela
Setelah tanaman jati berusia di atas dua tahun, imbuhnya, lahan perhutani masih dapat dimanfaatkan sebagai tumpangsari dengan jenis tanaman lain, seperti kacang tanah serta kunir. ’’Pemanfaatan lahan ini merupakan upaya rehabilitasi lahan, melalui reboisasi atau penanaman kembali. Dalam proses ini masyarakat di sekitar hutan ikut dilibatkan dan merasakan hasilnya.’’
Lebih lanjut ia menjelaskan, lahan Perhutani yang dimanfaatkan untuk menanam sistem tumpangsari memiliki luas 15 hektare. Yakni sembilan hektare di Petak 66E yang ditanami padi gogo dan enam hektare di Petak 27A ditanami jagung. ’’Ada 98 petani pengolah lahan Perhutani tersebut. Untuk tanaman padi gogo, setiap hektare mampu menghasilkan gabah 3,2 ton, sedangkan produksi jagung mencapai 1,8 ton/hektarenya. Di sela-sela tanaman padi masih bisa ditanami pohon Rosela. Setiap bulannya, dapat menghasilkan buah 2,4 ton/hektare. Rosela dimanfaatkan untuk membuat sirup.’’
Ditambahkan, produksi gabah dari padi gogo untuk sementara ini tidak dijual keluar. Namun, sebatas dipakai internal petani untuk kebutuhan konsumsi beras sehari-hari. ’’Sebagian kecil gabahnya, juga dimanfaatkan untuk keperluan bibit pada musim tanam berikutnya. Padi gogo ini ditanam sejak 20 Oktober lalu, setelah tiga bulan memasuki masa panen.’’ (G15-16)
Diposting oleh
Arman.arnat@
di
19.57
0
komentar
Label: Tanaman semusim